ANALISA BASIC BLUE PRINT PEMBINAAN
SEPAK BOLA INDONESIA
Oleh: Timo Scheunemann (Dir. Pembinaan Usia Muda PSSI)
INTRO
PSSI ada
sebagai lembaga olahraga yang bertujuan membina cabang olahraga sepak bola di
Indonesia.
Tujuan
pembinaan itu sendiri adalah terbentuknya TIMNAS yang tangguh dan
berprestasi. Semua program yang
dilakukan dan direncanakan ke depan sudah seharusnya mempunyai satu muara yang
sama; terbentuknya TIMNAS yang kuat.
Artinya
faktor entertainment, faktor ekonomi,
politik, ego pribadi maupun kelompok dll tidak boleh memblokir arus pembinaan ke muara yang sama tadi; pembentukan timnas yang sanggup membanggakan
bangsa dan negara.
Decission making PSSI harus sesuai dengan visi
muara pembinaan yang berkualitas. Artinya
setiap PSSI membuat keputusan visi muara
pembinaan yang berkualitas hendaknya berfungsi sebagai kompas dalam memilah
project yang diprioritaskan, memilih SDM, dan semua keputusan lainnya.
DUA MACAM PEMBINAAN
Pembinaan
bisa dibagi menjadi dua guna memudahkan pemetaan kebutuhan pembinaan:
1)Pembinaan
masa
Yang
dimaksud dengan pembinaan masa adalah pembinaan SSB dan tim-tim sekolah formal.
Pemain yang dimaksud dalam kategori ini
reat-rata bermain sepak bola mulai usia dini hingga berusia 17 tahun.
Selanjutnya mereka bermain bola sebagai kegiatan rekreasi di universitas/desa/
tempat kerja.
Pembinaan
masa tetap harus dilakukan karena pemain elite/ berbakat awalnya berada dan
dibina di dalam kelompok ini. Kalau pembinaan masa diabaikan dasar-dasar
bermain bola yang baik serta pengetahuan terkait (gizi, taktik, perawatan cidera dll) tidak
akan akan diperoleh di usia dini (5-12thn) dan usia muda sehingga potensi
pemain berbakat tidak diraih secara maksimal.
Usulan project nyata yang perlu
dilakukan (kategori prioritas ) guna
terjadinya pembinaan untuk masa:
- Pengadaan
kurikulum (termasuk DVD visualisasi) sebagai pegangan yang standard bagi
pelatih dan manajemen klub/SSB (sudah).
-
Distribusi dan sosialisasi kurikulum
(proses sedang berlangsung).
- Pemantauan dan penilaian implementasi
kurikulum di ribuan SSB yang tersebar di Indonesia (menunggu terbentuknya
asosiasi-asosiasi di daerah yang bisa melakukan tugas ini bersama pengcab atau
pengprov dan universitas terdekat).
· Diterbitkan SK yang memberi arahan soal pembentukan
asosiasi lokal yang independen namun didukung oleh pengcab. Asosiasi/
paguyuban baik yang bersekala besar/ kecil, lokal maupun nasional diharapkan
menjadi ujung tombak pembinaan usia muda. Pengcab tidak bisa diharapkan karena
banyak yang tidak aktif membina. Asosiasi SSB, dilain pihak, mempunyai
kepentingan yang sama; terlaksananya sebanyak mungkin turnamen dan kompetisi
diantara anggota (karena servis yang sudah seharusnya diberikan oleh
masing-masing SSB pada murid-muridnya selain latihan yang berkualitas adalah
pertandingan).
Turnamen
bersekala nasional harus dingat hanyalah “bumbu penyedap” pembinaan usia muda. Turnamen
dan kompetisi yang sebenarnya terjadi dalam sekala lokal namun kontinyu. Asosiasi
dan pengcab harus ditekan untuk merealisasikan aspek pembinaan yang sangat
penting ini; kompetisi lokal!
Kalau
muara pembinaan adalah TIMNAS maka hilir pembinaan adalah pelatihan pelatih. Sikon
saat ini mengenai pelatihan pelatih sangat memprihatinkan. Saran saya di sebuah
markas ABRI ditetapkan sebagai akademi kepelatihan satu pintu. Di
lokasi yang sama ditetapkan sebagai akademi kepelatihan wasit satu pintu. Untuk
level rendah (lisensi D untuk pelatih) tetap dilakukan “road show” pengadaan
lisensi D ke berbagai daerah dibawah arahan Pak Bert Pentury dan tim. Untuk
lisesnsi C keatas demi terciptanya kerapian organisasi dan pendataan serta
standarisasi pengajar, fasilitas, materi, penyaringan penerimaan/kelulusan
peserta dll kepelatihan pelatih harus dilangsungkan di satu tempat (satu pintu).
Instruktur AFC harus ada dan perlu
diminta kehadirannya secara jangka panjang mengingat ketertinggalan Indonesia
dalam hal kepelatihan pelatih yang berkualitas , legal dan berstandard AFC.
Diharapkan dalam setahun 300-600 lebih pelatih berlisensi C keatas dengan
standard yang baik bisa tercipta melalui reformasi kepelatihan pelatih dan wasit yang teramat sangat dibutuhkan ini. Tanpa pelatih yang berkualitas mustahil
pemain terdidik dengan baik. Karena itu sudah seharusnya project akademi
kepelatihan ini menjadi prioritas utama!
Staf yang dibutukan: 1 Direktur akademi
(Dir. tehnik PSSI), 1 manager sekaligus bendahara akademi, 2 instruktur kepala,
2 asisten istruktur, 1 pengawas AFC, 1 sekretaris, 2 ball boys/pembantu.
Karena peserta membayar serta lokasi
yang bekerja sama dengan ABRI, biaya tambahan yang dibutuhkan tidak besar.
Untuk tim kepelatihan lisensi D yang
melakukan road show ke daerah menurut saya paling sedikit diperlu kan 2 tim
sehingga semakin luas/banyak daya jangkaunya.
2) Pembinaan
elite
Yang
dimaksud dengan pembinaan elite adalah pembinaan pemain dengan bakat sedang
(sekelas amatir kota atau divisi 1-3 amatir nasional) dan bakat kelas atas
(divisi utama, liga tertinggi dan TIMNAS).
Usulan project nyata yang perlu
dilakukan (kategori prioritas ) guna terjadinya
pembinaan untuk pemain kelas elite:
- ·
Pengaturan
pembatasan usia untuk divisi 1-3 amatir nasional (sudah).
- ·
Liga
prof berlangsung rapi, tegas, fair dan sehat secara finansial.
- · Liga
prof menetapkan 3 pemain asing yang dikontrak namun hanya 2 pemain asing yang
boleh dimainkan. Dengan demikian terjadi penyaringan pemain asing secara
otomatis dan setelah dikontrak masih ada persaingan antar pemain asing. Faktor
entertainment tetap terjaga dan penyaluran pengetahuan juga tetap terjadi tanpa meblokir pengembangan
bakat pemain lokal.
Mengapa harus 2? Karena kalau 3 pemain asing yang diperbolehkan main
hampir semua pelatih akan memakai jasa pemain asing di tiga posisi krusial;
center back, gelandang serang dan striker. Akibatnya TIMNAS akan kesulitas
mencari pemain berbakat di 3 posisi pilar ini.
Visi PSSI (lihat bagian intro) seharusnya menjadi acuan dalam membuat
keputusan termasuk dalam hal jumlah pemain asing di setiap klub.
Setiap tim pro secara tegas
diharuskan memiliki akademi usia muda. Setiap tim pro wajib memiliki tim u12 (lokal), u15 (lokal)
dan tim u21 (nasional). Untuk tim u21 diwajibkan
memiliki asrama bagi pemain yang berasal dari manca daerah. Untuk itu dibutuhkan minimal 2 scout professional per
klub; seorang scout untuk mencari pemain lokal berbakat serta seorang scout
untuk mencari pemain berumur 16-21 dari seluruh Indonesia.
Standard akademi (pelatih berlisensi B, ada asrama, ada scout pro,
sekolah tetap diutamakan, standard fasilitas terpenuhi, 3 youth teams, dll) harus
disosialisasikan dan diawasi pelaksanaanya.
·
Scouting
pemain harus dilakukan secara sistimatis. 37 scout nasional sudah ada dan
diberi SK tapi belum sampai ke tangan para scout nasional. Perlu juga
penyediaan dana untuk melakukan scouting secara sistimatis.
·
Setiap
PENGCAB dan/atau asosiasi SSB diharuskan memiliki tim all star u10, u12, u15
dan u17. Latihan berlangsung 2x seminggu secara kontinyu (tidak
hanya sebelum adanya turnamen). Pemain terbaik harus berlatih bersama pemain
terbaik. Hal ini juga akan memudahkan scouting.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
NB:
TUGAS DAN FUNGSI SEORANG DIREKTUR TEHNIK:
1. Pemilihan dan dan pengawasan staf pelatih dan program timnas-timnas
junior (tetapi tidak untuk timnas senior!).
2. Membantu exco dalam memilih pelatih kepala untuk timnas senior dengan
cara memberikan masukan/info terkait hal-hal tehnis.
3. Membuat dan mengawasi sistim scouting untuk keperluan timnas usia
muda.
4. Mengawasi sistim kepelatihan pelatih.
5. Khusus untuk Indonesia , usulan saya, tugas Dir. Tehnik ditambah satu
yakni pengawasan standarisasi akademi di setiap klub pro.